juliaalela

Arsip untuk ‘rindu’ Kategori

yang-akan-datang

Dalam rindu di 5 Maret 2012 pada 4:34 am

Tak ada yang lebih menyenangkan selain bertukar pikiran denganmu. Di belakang kemudimu kemarin pagi, tentu sembari memeluk erat lingkar perutmu yang sepertinya sedikit menggendut, tiba-tiba, entah siapa yang memulai, kita mulai berbicara tentang yang-akan-datang. Katakan saja lulus dan bekerja selanjutnya. Ada yang bisa menebak waktu? Ah, lagi-lagi waktu.

Ada rasa yang sepertinya ingin menyeruak.Bagaimana kalau begini? bagaimana kalo begitu? kalau begini dan begitu? Jadi kita sekarang masih meraba-raba yang-akan-datang itu. Apa waktu juga akan dengan tiba-tiba membuat kita mengenal jarak? Jika dibayangkan sungguh mengerikan. Jika dilakukan, aku tak tahu akan seperti apa nyatanya.

Apa yang aku khawatirkan? kamu, tentu saja, dan aku sendiri, sudah pasti.
Kata orang, dan aku yakin kata Tuhan juga, jodoh tak kan lari kemana. Jadi, di manapun yang-akan-datang nanti, ingat aku pernah menulis ini.

Subuh,
Kos Puri Suflin.

diary

Dalam #30harimenulissuratcinta, rindu di 26 Januari 2012 pada 11:59 pm

aku kangen kita nulis diary lagi. seperti dulu.
kamu kangen, ngga?

cerita

Dalam rindu di 10 Juli 2011 pada 9:28 pm

Hi, sweetheart, apa kabarmu di sana?
Saat sedang menulis ini, yang aku tahu kamu sedang ada pertemuan dengan pak dukuh dan warga desa lainnya membicarakan gotong royong. Ah, pasti menyenangkan sekali ya KKN di desa. Oya, hari ini ada kejadian, yang menurutku, sedikit lucu. Menggelitik tepatnya. Tadi sore kamu menelponku dan obrolan kita sampai ke masalah cucian baju. Kamu bertanya caranya mencuci. Hihi..hey, sayang, bayangkan saat aku tengah berbadan dua nanti dan sudah gendut-gendutnya, aku selalu membayangkan kamu yang membantuku mencuci dan aku akan galak menyuruhmu mencuci menggunakan tangan, anti mesin cuci. Pasti lucu ya. Aku yakin kamu akan kecapekan dan berhenti sebelum cucian beres. Haduh, tapi aku akan tetap membuatkanmu sarapan sayang, agar lelahmu mencuci hilang. Wohoo, terdengar apa? lucu atau wagu? Dih, boleh dong ya punya mimpi. Katanya sih, semua berawal dari mimpi, yang :)

By the way, seminggu ini banyak sekali event yang ingin sekali aku sambangi. Jogja Broadway, Festival Gamelan, Festival Layang-layang. Ah, buatmu kayanya ini terdengar membosankan ya, Tapi, dari twit, berita di dunia maya dan cerita teman yang kesana membuatku sedikit iri. Sayangnya aku tak ada teman. Siapa lagi yang aku ajak selain kamu. Untungnya aku punya kesibukan lain yang juga menguras waktu. Semoga tahun depan acara-acara itu tadi masih bisa kita lihat ya, sayang.

Ahya, besok kamu bilang mau pulang ke kota. Kita bisa bertemu barang sebentar. Sebentar. Ya, sebentar karena aku pun punya agenda sendiri dengan KKNku. Ah, sayang, tolong bilang sama yang mengendalikan waktu, aku ingin lama sebenarnya, tidak sebentar. Tapi apa mau dikata.

Hmm, sudah dulu ya, sayang. Aku menunggu smsmu kalau rapatmu sudah selesai. Sementara itu masih ingin berkelana di dunia maya.

Peluk rindu.

KKN

Dalam rindu di 27 Juni 2011 pada 9:53 pm

Malam ini, sebenarnya aku berharap tiba-tiba kamu ada di luar pintu Magenta saat selesai rapat atau sudah duduk manis di depan kos saat aku pulang. Ah, ini pasti rasukan sinetron. Buktinya toh sama saja. Di luar Magenta sepi, apalagi di depan kosan. lebih sepi.

Aduh, kurang apa ya rasanya beberapa hari terakhir waktu seakan milik kita. Pagi, siang, sore, malam, bahkan dini hari. Sampai-sampai, alam mungkin sudah kenal dengan kebiasaan kita.

Tapi sebal rasanya saat tadi siang kamu bilang kalau besok sudah harus ada di lokasi. duh, pikiran kemana-mana. Kamu selalu bilang belum tahu saat aku tanya kapan berangkat. katanya tanggal segini, katanya tanggal segitu. Sistem kampus yang payah, katamu menambahkan.

Akhirnya, besok kamu berangkat dan hari ini cukup say goodbye di dunia ini, dunia maya.
Astaghfirulloh, rasanya berlebihan sekali ya. Padahal ini sama seperti saat aku mau pergi Praktik Industri di bulan yang sama tahun kemarin, bahkan lokasinya lebih jauh. Tapi, semua sudah lewat dan semua memang nantinya akan begitu saja lewat. Seperti katamu, sayang :)

Alhamdulillah, melewati masa ini berarti masa kita sudah ada di mahasiswa akhir. Olalaaa, bukan tua, sebentar lagi sudah mendekati wisuda, insya allah. Selamat KKN sayang. Untungnya kita menjalani program ini disaat yang bersamaan ya, hanya beda lokasi saja. Semoga dimudahkan segala urusan, membawa ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat, teman-teman dan kamu sendiri.

Bismillahitawaqaltu’alallah lahaulla wallaquwaata illabillah. Take care, sweetheart. Will be missing you :)

visualize

Dalam rindu di 19 Juni 2011 pada 3:35 pm

Sweetheart, sometimes I want to stole your time. Whole your time of the day.

I want to know what are you doing now, what are you wearing, what are you saying, what are you watching, what are you thinking about, what make you laugh, what make you upset, what make you sad, what make you happy. Everything!

I want to know every step you walk, every act you take, every breath as you blow. Everything!

I am jealous with lizard that can see you when you’re taking a bath! Wohooo..
I am jealous with pillows, bolsters and blanket who accompany you on bed every night you sleep.
I am jealous with your siblings as your housemates while I just try to sleep alone at my small room.

I can not wait when we have our dream home, preparing breakfast and hot tea before you go to office. Spruce up the house and welcoming you back with a warmkiss. Have a dinner at home and talked everything about that day. Then I will close the day by sleeping in your arms.

kemarau

Dalam rindu di 16 Juni 2011 pada 6:48 am

Hello boy!

Pagi ini dingin luar biasa. Ah, ternyata musim kemarau sudah datang. Akhirnya, tak lagi sebal saat harus keluar sore karena hujan.  Dan aku ingin meniru alam, yang tak lagi sering menurunkan air dari langit. Toh, hujan lebat yang kemarin sering turun sama sekali tak mengurungkan niat untuk berkelana dengan jalanan. Begitu juga dengan kamu, yang sudah mati rasa dengan hujan dari mataku.

Aku sangat menikmati kemarau kali ini. Bagiku, kemarau bukan untuk dikeluhkan karena cuaca yang tak bersahabat dan luar biasa panasnya. Kemarauku kali ini terasa berbeda. Kemarauku kali ini layaknya semi dengan bunga dimana-mana. Indah sekali.

Aku suka menikmati musim ini dengan matahari sore yang menyengat. Tawa yang pekat, rengkuhan tangan yang hangat dan canda yang bergulir manja. Ah, tapi aku tak lupa rasa malu. Tak perlu diceritakan kembali, kan? Setelah malam itu, setelah melihat matamu memerah sendu, setelah entah mendapat kekuatan darimana aku bisa bercerita tanpa hujan, aku sedikit lega. Semoga kamu demikian. Terimakasih telah menghargai usahaku untuk bercerita dan menahan hujan :)

Waktu-waktu berikutnya adalah waktuku. Waktuku menunjukkan baik pada kemarau maupun saat musim hujan kembali datang, aku akan membuatmu selalu ada dalam musimku yang terbaik.

kembali

Dalam rindu di 11 Maret 2011 pada 12:35 am

Sudah menit ke-5 lepas dari tengah malam saat aku mulai mengawali. Artinya, sudah berganti hari, bergeser tanggal. Beberapa waktu terakhir ini, semua rasanya berjalan lambat sekali. Yang aku tahu, hari sudah berganti, pagi berangkat kuliah dan aktifitas lainnya, berganti lagi, seperti itu lagi.

Beberapa waktu terakhir ini aku benci sekali dengan malam. Malam saat satu per satu aktifitas selesai. Malam saat semua gelap. Malam dimana waktu seakan untuk kita. Kita yang sedang tak seirama. Aku benci sekali saat malam mempertemukan kita. Menyatukan dengan bahasan yang membuatku ingin muntah dan kepala serasa ingin diikat kencang.

Saat kamu berceloteh dan semuanya tentang aku yang terpojokkan, rasanya ingin tutup kuping. Bukan menghindar, aku seperti ditampar berkali-kali, didorong kemudian terjerembab jatuh. Jauh sekali ke bawah. Oh, Tuhan, rasa-rasanya ingin membungkam mulutmu yang ceriwis membicarakan tentang ini. Sampai aku bilang untuk menyuruhmu membenciku sepenuh jiwa raga dan lupakan saja aku. Semata-mata agar kau tak lagi membicarakan soal ini. Itu saja.

Seakan tak kenal kata jera, bahkan dengan intensitas yang lebih, semakin dan semakin aku menerima ocehanmu. Bawel sekali rasanya. Tuhan, ingin aku jahit mulutmu. Saat itu.

Aku kesal denganmu yang terlalu mengurusiku. Siapa kamu? Siapa aku? Kamu sudah berkata bahwa masa depan yang akan dirangkai kembali itu tidak denganku, tapi ke-ikut-campuran-mu itu membuatku tak berkutik.

Pada akhirnya, aku berlutut dengan terisak tak karuan di depanmu. Pasti mukaku waktu itu jelek sekali, ya. Di tahun kedua lebih sekian, keluarga yang luar biasa hangat, semua kenangan yang tak mungkin pupus, rengkuhanmu, doa dan semua bijaksanamu. Adakah yang lebih besar cintanya selain cintamu?

Tuhanku Maha Cinta, kami hanya sepasang manusia yang sepertinya terlalu cepat bertemu. Aku tak menyalahkan waktu, mungkin keadaan dan aku yang lalai yang membuat seperti ini. Tuhanku yang Maha Lembut, seperti apakah Engkau menciptakan hatinya yang begitu lembut menyapu aku yang kasar. Tuhanku yang Maha Bijaksana, seperti apa Engkau ciptakan ia yang bijaksananya meluluhkan aku.

Tuhan, jika aku memohon jodoh yang terbaik, bolehkah aku memintanya menjadi milikku kembali?

random

Dalam rindu di 21 November 2010 pada 1:21 pm

Kamu pernah nggak,sih menghitung berapa banyak pulsa yang dihabiskan cuma untuk sekedar sms ‘sampai’ atau ‘tunggu di depan’ saat kamu menjemput ku untuk pergi keluar?

Katamu, sekarang pipiku sudah tak semulus dulu. Oke, memang sekarang aku sudah tak lagi rajin mengunjungi dokter kulit dan memanjakan diri di sana. Bukannya sudah tak lagi memperhatikan penampilan, tapi ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar memoles wajah agar mulus seperti model iklan di televisi itu. Dan semoga kamu tak berpaling hanya karena wajah ya. Aku beri tahu ya, wajah perempuan yang cantik dan mulus-mulus itu tak berarti hatinya semulus wajahnya, lho. Jadi percayalah padaku kalau hati ini selalu aku rawat tiap hari, agar tetap menarik, menarik hatimu :)

Eh, sayang, tak terasa ini sudah jalan tahun ke-3 kita belajar di strata yang sama ya. Kamu ingat, nggak, saat ospek dulu, tiba-tiba ada bunyi sms dari handphone mu yang ternyata dari aku! kamu bilang, dulu, takutnya setengah mati. Takut ketahuan senior karena sebenarnya sama sekali nggak boleh bawa handphone, kan? hahha..aku sama sekali tak ingat apa isi sms itu. Tapi pastilah tak penting, karena dulu kita apa ya? Cuma teman say-hi dan aku yakin isi sms itu cuma basa-basi belaka.

Nah, kalau sekarang, semua seperti berjalan apa adanya ya. Mungkin karena waktu yang mengikuti kita tiap hari sudah hafal dan seakan mengerti. Sudah berapa ratus hari, sih? Sebenarnya ini belum ada apa-apanya dibandingkan jalan yang panjang di depan sana. Apa kita akan jadi beli sofa yang lucu kemarin? Atau tempat tidur di toko furniture pinggir jalan itu? Ah, abaikan saja kicauanku kali ini. Aku hanya ingin meluapkan semuanya, terlalu banyak cerita kita yang ingin aku bagikan.

Oya, terimakasih ya untuk keluarga yang hangat itu :)

Sampai kapan?

Dalam rindu di 4 Oktober 2010 pada 9:18 pm

Halo lelakiku,

Bagaimana harimu? Bagaimana hatimu saat membaca kata yang aku rangkai ini? Jangan bosan ya, karena rasanya ribuan kata masih belum bisa sepenuhnya mewakili perasaanku.

Lelakiku,
Sampai kapan ya kita bisa terus seperti ini?
Kau tahu, tak ada yang bisa menebak waktu. Ah, aku benci main rahasia. Seandainya waktu bisa berbaik hati membocorkan rahasianya padaku, tentang kita. Mungkin aku harus mentraktir waktu, membayarkan satu paket menu sirloin dengan jus alpokat, kemudian kami, aku dan waktu, akan bicara banyak hal dan pelan-pelan membujuk waktu untuk bicara tentang masa depan, apakah kita akan ada dalam satu rumah penuh kasih?
Sayangnya aku tak bisa semudah itu mengajak waktu berbicara.

Sepertinya waktu sengaja menjaga rahasianya rapat-rapat. Aku tahu itu. Agar aku belajar banyak hal. Begitu juga dengan kamu.

Tapi sampai kapan ya kita bisa terus seperti ini? Sampai kapan aku masih bisa merangkul lenganmu erat, sampai kapan aku masih bisa tertawa terpingkal pingkal atau cemberut muka ditekuk ketika kamu meledek, sampai kapan aku masih bisa merasakan kangen bahkan ketika kamu baru saja berlalu dari hadapanku. Ih, mellow banget deh :)

Semoga waktu benar-benar mengerti bahwa aku takut jika tiba-tiba waktu memberhentikan jatahnya untuk kita. Karena aku, kamu, tak ada yang tahu apakah empat sampai lima tahun ke depan mimpi yang dibangun itu akan jadi sesuatu yang nyata. Tuhan, melalui perantara waktu, aku tahu Kau tahu bagaimana aku mensyukuri fase hidupku yang satu ini. Semoga doa kami Kau jabani. Amin.

aku kamu

Dalam rindu di 3 Oktober 2010 pada 7:46 pm

Kalau dipikir-pikir, aku sepertinya lebih ekspresif ya daripada kamu.
Dengan mimik yang sumringah dan tawa yang lepas, aku bisa menunjukkan dengan riang gembira kalau aku senang saat waktu cuma milik kita, bahkan ketika tiap harinya wajahku dan wajahmu bersua. Tak ada bosan. Yang ada malah ketagihan.

Pun ketika aku kecewa dan kesal setengah mati. Dengan kalimat yang seakan seperti tertata aku bisa mengungkapkan rasa kesal itu. Tapi tidak dengan kamu, yang katanya nggak bisa marah dan lebih suka untuk menyimpannya atau membicarakannya beberapa waktu kemudian. Berkebalikan sekali.

Tapi aku suka saat waktu terkikis dengan obrolan kita yang berisi. Boleh ya aku bilang seperti itu? Karena aku lebih suka obrolan yang saat pamungkas ada yang bisa dipetik. Bukan cuma canda kosong belaka. Walaupun sesekali kamu melucu. Lucu sekali sampai aku terpingkal pingkal menahan sakit perut. Atau kamu meledek, buat bibirku manyun karena sedikit kesal. Rasanya ingin cubit.

Kadang juga aku kesal saat serius memperhatikan bicaramu, tiba-tiba kamu mengira aku bosan. Oh, sayang, tidakkah kamu tahu itu ekspresiku memperhatikanmu, dengan seksama dan sesekali berdecak kagum dalam hati. Kadang juga aku yang merasa kamu kurang suka dengan ceritaku. Kamu tahu aku banyak bicara, senang cerita. Rasanya semua-muanya selalu ingin aku ceritakan. Di kota ini, kalau bukan kamu, kepada siapa lagi aku bercerita panjang lebar. Tapi dengan raut mukamu yang biasa itu, aku merasa ceritaku kurang menarik dan sia-sia. Padahal mungkin rasamu sama seperti ku, kita cuma belum bisa menangkap maksud satu sama lain ya. Semoga waktu mengajari semuanya.

Begitu juga saat waktu-waktu berharga dimana aku bisa bertemu kamu dan keluarga. Tidakkah kamu tahu hatiku bersorak riang gembira dan berdegup kencang jika waktu itu tiba. Maka, sedikit agak tidak terima dengan ucapanmu tadi siang. Untuk yang satu ini, gembiraku saat ada diantara kalian, aku merasakan sesuatu yang lain, yang bahkan tidak bisa aku ekspresikan seperti biasanya. Yaa, aku terlalu senang.

Terima kasih untuk kita yang berbeda. Semoga detik yang berjalan terus mengajari kita banyak hal, tentang perbedaan, yang melengkapi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.