Sudah menit ke-5 lepas dari tengah malam saat aku mulai mengawali. Artinya, sudah berganti hari, bergeser tanggal. Beberapa waktu terakhir ini, semua rasanya berjalan lambat sekali. Yang aku tahu, hari sudah berganti, pagi berangkat kuliah dan aktifitas lainnya, berganti lagi, seperti itu lagi.
Beberapa waktu terakhir ini aku benci sekali dengan malam. Malam saat satu per satu aktifitas selesai. Malam saat semua gelap. Malam dimana waktu seakan untuk kita. Kita yang sedang tak seirama. Aku benci sekali saat malam mempertemukan kita. Menyatukan dengan bahasan yang membuatku ingin muntah dan kepala serasa ingin diikat kencang.
Saat kamu berceloteh dan semuanya tentang aku yang terpojokkan, rasanya ingin tutup kuping. Bukan menghindar, aku seperti ditampar berkali-kali, didorong kemudian terjerembab jatuh. Jauh sekali ke bawah. Oh, Tuhan, rasa-rasanya ingin membungkam mulutmu yang ceriwis membicarakan tentang ini. Sampai aku bilang untuk menyuruhmu membenciku sepenuh jiwa raga dan lupakan saja aku. Semata-mata agar kau tak lagi membicarakan soal ini. Itu saja.
Seakan tak kenal kata jera, bahkan dengan intensitas yang lebih, semakin dan semakin aku menerima ocehanmu. Bawel sekali rasanya. Tuhan, ingin aku jahit mulutmu. Saat itu.
Aku kesal denganmu yang terlalu mengurusiku. Siapa kamu? Siapa aku? Kamu sudah berkata bahwa masa depan yang akan dirangkai kembali itu tidak denganku, tapi ke-ikut-campuran-mu itu membuatku tak berkutik.
Pada akhirnya, aku berlutut dengan terisak tak karuan di depanmu. Pasti mukaku waktu itu jelek sekali, ya. Di tahun kedua lebih sekian, keluarga yang luar biasa hangat, semua kenangan yang tak mungkin pupus, rengkuhanmu, doa dan semua bijaksanamu. Adakah yang lebih besar cintanya selain cintamu?
Tuhanku Maha Cinta, kami hanya sepasang manusia yang sepertinya terlalu cepat bertemu. Aku tak menyalahkan waktu, mungkin keadaan dan aku yang lalai yang membuat seperti ini. Tuhanku yang Maha Lembut, seperti apakah Engkau menciptakan hatinya yang begitu lembut menyapu aku yang kasar. Tuhanku yang Maha Bijaksana, seperti apa Engkau ciptakan ia yang bijaksananya meluluhkan aku.
Tuhan, jika aku memohon jodoh yang terbaik, bolehkah aku memintanya menjadi milikku kembali?